BMKG: Bibit Siklon “98W” Pemicu Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

TERAS, Manado- Banjir dan tanah longsor melanda wilayah Propinsi Sulawesi Utara, Jumat (16/7/2021). Banjir dan longsor hampir di seluruh wilayah, dipicu hujan deras diakibatkan adanya bibit siklon “98W”.

Koordinator Operasional Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Ben Arther Molle mengatakan, sebagian besar wilayah Sulawesi Utara mengalami cuaca buruk hari ini. Apakah cuaca buruk tersebut akibat adanya siklon tropis bernama IN-FA?

Ben menjelaskan, menurut monitoring dari Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa tidak adanya siklon tropis aktif yang berada di wilayah monitoring TCWC.

“Terpantau terdapat bibit siklon “98W” yang berada di Samudera Pasifik barat sebelah barat Filipina, berada di sekitar 17.5LU – 131.8 BT, dengan kecepatan angin maksimum dalam sistem ini yaitu 20 knot dan tekanan minimum 1006 mb,” katanya, lewat keterangan tertulis kepada media ini, Jumat malam.

Dia menuturkan, dari analisis hari ini, sistem “98W” sangat baik dilihat dari citra satelit cuacanya maupun dari angin per lapisannya, jika dibandingkan dengan hari kemarin yang masih lemah.

Fakta menarik dan bermanfaat

Dari model NWP menunjukkan bahwa sistem ini bergerak ke barat barat laut. Potensi untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan dalam kategori menengah.

Bibit siklon tropis ini belum menjadi siklon tropis sehingga informasi yang beredar bahwa telah terbentuk siklon tropis IN-FA tidak benar.

“Berdasarkan analisis dinamika atmosfer di wilayah Sulawesi Utara, hujan sedang hingga lebat yang terjadi dipicu dari kombinasi MJO dan gelombang frekuensi rendah/tipe low dan prediksi ke depan interaksi dengan gelombang Rossby Equator akan cukup berkontribusi,” tuturnya.

MJO adalah Madden Julian Oscillation, yang merupakan aktivitas intra seasonal terjadi di wilayah tropis dan dapat berupa adanya pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari.

Lanjut Ben, pantauan dari pola angin terdapat pola perlambatan kecepatan angin/konvergensi yang memanjang dari Teluk Tomini hingga perairan utara Sulawesi Utara.

Serta interaksinya dengan faktor skala lokal (kelembaban udara basah dan nilai konveksi kuat), maupun anomali suhu permukaan laut yang positif (indikasi suhu permukaan laut yang hangat) mampu mendukung pertumbuhan awan hujan yang signifikan.

“Prakiraan cuaca Sulawesi Utara esok hari, 17 Juli 2021 diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan dengan durasi yang panjang serta kecepatan angin berkisar antara 10-20 kilometer/jam,” tandasnya.

Cuaca buruk ini mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Manado. Sedangkan tanah longsor terjadi di beberapa titik di ruas jalan trans Sulawesi.

Hingga pukul 22.46 Wita Manado dan sekitarnya masih diguyur hujan dengan intensitas sedang. (SMM/KCM)

Latest from Headline