TERASMANADO.COM – Sejumlah mahasiswa dan petani menggelar demonstrasi persoalan tanah Kalasey Dua di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (7/11/2023).
Dalam demo itu, massa yang tergabung dalam Solidaritas Petani Penggarap Kalasey Dua membawa beberapa seruan aksi.
Pertama, mendesak Kapolda Sulawesi Utara agar mengusut tuntas represifitas yang terjadi tanggal 7 November 2022 di Kalasey Dua
Kedua, usut tuntas pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Kalasey Dua
Ketiga, mengutuk keras tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Satpolpp dan kepolisian terhadap mahasiswa dan petani Kalasey Dua
Keempat, stop perampasan ruang hidup di tanah Kalasey Dua
Kelima, hentikan penggusuran paksa di lahan petani Kalasey Dua
Keenam, mendesak Pemerintah Provinsi untuk memberikan kepastian hukum dan hak atas tanah terhadap petani Kalasey Dua
Para demonstran diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Sulut Victor Mailangkay. Setelah menerima aspirasi, Mailangkay menyampaikan beberapa sikap.
Ketua DPW Partai Nasdem Sulut itu mengatakan bahwa ia berpihak pada kepentingan rakyat Sulut termasuk kepentingan rakyat yang ada di Desa Kalasey Dua.
“Sebagai wakil ketua DPRD Sulut mendukung sepenuhnya upaya-upaya perlindungan hak-hak rakyat di Sulut, termasuk hak-hak rakyat yang ada di Desa Kalasey Dua,” katanya.
Mailangkay akan membawa aspirasi warga tersebut untuk di bahas di DPRD Sulut bersama instansi terkait.
“Saya sebagai wakil ketua DPRD akan membawa aspirasi dan usulan bapak ibu sekalian agar pada hari Senin tanggal 13 November 2023 ada rapat bersama rakyat dan stakeholder terkait untuk membahas beberapa hal termasuk masalah tanah di Kalasey Dua,” paparnya.
“Sebagai wakil ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara saya bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban saya berdasarkan hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia. Semoga Tuhan memberkati bapak ibu dan kita sekalian,” sambung Mailangkay.
Terpantau saat demo, aparat kepolisian siaga di depan Kantor DPRD Sulut. Usai menyampaikan aspirasi dan usulan, massa aksi kemudian membubarkan diri. (IVO)