////

Aroma Kopi Jarod

TERASMANADO.COM – Aroma kopi sudah tercium jelas saat kita memasuki gapura pintu masuk Jarod. Sekitar 40-an rumah kopi berjejer rapi di dua sisi (kanan-kiri) kawasan Jarod yang panjangnya kurang lebih 250-an meter.

Jarod merupakan singkatan “Jalan Roda”. Pada awal tahun 1970-an, Jarod yang masuk di wilayah Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, tepatnya samping Shopping Center, itu merupakan area kumuh dan jarang dilewati.

Kawasan yang dinamai Jarod adalah tempat penyimpanan roda yang dipakai buruh untuk mengangkut dagangan menuju pasar maupun kaki lima.

“Tahun 70-an namanya bukan Jarod, dulu area kumuh, jalan banyak dengan beling,” ungkap Ridwan Yusuf, Minggu (19/11/2023).

Pria berusia 54 tahun itu mengaku dirinya tinggal di Jarod sejak umur 14 tahun atau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

“Saya juga penjual kopi,” akunya.

Tahun 1980-an di kawasan itu mulai berdiri gerai kopi tradisional dan menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan baik mahasiswa, pebisnis, pedagang bahkan makelar. Seiringnya waktu banyak orang mengetahui Jarod.

“Misalnya tidak ada di luar orang pergi di sini, di antaranya mereka membeli pembungkus beras, gula karena pembuatan lokasinya di sini. Yang jualan buah- buahan tempat simpannya di sini,” tutur Ridwan.

Meskipun tempat itu terbilang kumuh namun tempo itu Jarod memiliki kekhasannya. Masuk tahun 1990-an, satu persatu pedagang kaki lima berdatangan masuk Jarod. Beratapkan terpal, mereka membuka gerai kopi sekaligus menjual makanan.

Dominasi pemilik rumah kopi saat itu berasal dari Gorontalo, kecuali pengusaha Cina yang mempunyai tempat gilingan kopi, sangrai kopi, pabrik sabun dan  tumpukan kayu (penjual kayu).

“Pedagang kopi mengambil bahan baku sudah ada di sini, itu yang jual orang Cina. Walaupun daerah ini kumuh tapi orang suka datang ke sini,” terang Ridwan.

Pascakebakaran memasuki tahun 2000-an, tepatnya 1996, Jarod ibarat gunung, ketika meletus tanahnya jadi subur. Usai mendapatkan bantuan dari dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Pegadaian (memperbaiki jalan) dan PLN (memperbaiki atap), Jarot merubah wajahnya menjadi pusat para pecinta kopi di Kota Manado.

“Dua BUMN turut andil menciptakan tempat kuliner Jarod seperti yang kita lihat seperti ini,” jelas Ridwan.

Banyak politisi dan pejabat handal jebolan tongkrongan Jarod yang saat ini memiliki kancah nasional, misalnya Marten Taha yang kini menjabat sebagai Wali Kota Gorontalo, Benny Rhamdani Kepala BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) yang juga merupakan seorang aktivis 98, Hengky Yaluwo Bupati Boven Digoel dan masih banyak lagi.

“Jarod banyak menciptakan politisi dan pejabat, suka nongkrong di sini waktu kuliah. Kalau Benny memang sebelum ada Jarod memang udah ada di sini,” sebut Ridwan.

Menurut Ridwan Jarod adalah representasi pergerakan para aktivis, lokasi taktis melahirkan ide bawah tanah. (ADI)

Latest from Headline