Manado, TERASMANADO.COM – Yayasan Swara Parangpuan Sulut menggelar workshop bertajuk Value Clarification for Action and Transformation (VCAT) di Aula IAIN Manado, 22–23 Mei 2026. Agenda strategis ini difokuskan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan komunitas lokal dalam mengawal serta mendorong pemenuhan hak layanan kesehatan bagi korban kekerasan seksual.
Kekerasan seksual tetap menjadi pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang membawa dampak berlapis, mulai dari gangguan fisik, psikologis, hingga sanksi sosial di masyarakat.

“Banyak korban yang belum mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai, baik karena kurangnya informasi, stigma sosial, maupun keterbatasan layanan yang ramah korban. Oleh karena itu, komunitas memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pemenuhan hak-hak ini,” ujar Koordinator Kajian dan Advokasi Swara Parangpuan, Nurhasanah.

Workshop ini lanjut Nurhasanah, mengadopsi pendekatan partisipatif melalui metode VCAT dengan tiga fokus utama, yakni sesi “Mengapa Terjadi?”, “Melintas Batas”, serta “Mengapa X Mati”. Melalui simulasi peran (role play) dan diskusi kelompok, dimana peserta yang terdiri dari aktivis, pendamping korban, dan mahasiswa diajak untuk mengidentifikasi serta mengikis bias maupun stigma yang berkembang di masyarakat.
Metode VCAT yang diterapkan, lanjut Nurhasanah, mengharuskan semua peserta aktif dalam diskusi dan saling sharing pengalaman atau pendapat mengenai suatu topik. “Dengan demikian kita dapat meng-explore pengetahuan atau pengalaman masing-masing peserta. Sehingga akan memberikan perspektif yang baru bagi peserta lain,” papar Nurhasanah.
Melalui workshop ini, diharapkan akan muncul rencana aksi nyata di tingkat komunitas serta penguatan jaringan dukungan yang lebih berempati. “Langkah konkret ini diharapkan mampu meruntuhkan dinding patriarki dan diskriminasi sistemik, sekaligus memastikan para korban mendapatkan penanganan medis dan psikologis secara cepat, tepat, dan adil,” pungkasnya.Kegiatan ini merupakan kerjasama Yayasan Swara Parangpuan Sulut dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Pusat Studi Gender & Anak (PSGA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado serta Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) Indonesia IPAS Indonesia.(VIC)




