Manado, TERASMANADO.COM – Kamis (2/3/2026), pukul 06.48 WITA, gempa berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang dengan durasi yang terasa sangat panjang, cukup untuk mengubah suasana pagi yang tenang menjadi hiruk-pikuk kepanikan.
Di dalam rumah-rumah, warga yang baru bangun tidur atau tengah menyiapkan sarapan sontak merasakan lantai seperti diangkat dan diguncang. Dalam hitungan detik, sejumlah orang berlarian keluar.
Namun kepanikan terbesar justru terjadi di Gedung Hall B KONI Manado. Di sisi utara gedung, sebuah kanopi beton yang menjorok ke luar tidak mampu menahan guncangan.
Adapun dampak dari kejadian gempa ini mengakibatkan seorang perempuan lanjut usia bernama Deice Lahia (69) meninggal.
Warga yang sempat melihatnya sesaat sebelum gempa, mengenang bahwa Deice sedang bersiap berjualan di sekitar lokasi Gedung KONI itu.
Ia tinggal tak jauh dari gedung itu. Namun pagi itu, saat gempa mengguncang, ia berusaha keluar menyelamatkan diri. Nasib berkata lain. Reruntuhan kanopi yang jatuh tepat menimpanya menjadi akhir perjalanan hidupnya.
Seorang saksi mata, Razid Poli, menyebutkan, jika lansia itu tertimpa bangunan saat menyelematkan diri. “Dia tertimpa bangunan saat hendak keluar menyelamatkan diri,” ujarnya.
Tak lama setelah guncangan mereda, aparat kepolisian dan tim gabungan tiba di lokasi. Wakapolda Sulawesi Utara, Brigjen Pol Awi Setiyono, langsung turun memantau. Dengan wajah tegang, ia menjelaskan, “Akibat gempa tersebut, kanopi sebelah utara gedung KONI roboh dan menimpa warga. Satu orang dinyatakan meninggal dunia.” ujar Wakapolda.
Jenazah Deice Lahia kemudian dievakuasi dari balik puing-puing besi dan beton yang berserakan. Dengan hati-hati, petugas mengangkat tubuhnya menggunakan tandu, lalu membawanya ke RS Bhayangkara Manado untuk pemeriksaan forensik. Sementara itu, polisi memasang garis pembatas di sekitar area gedung yang kini tampak seperti medan kehancuran.(***)




