Yogyakarta, TERASMANADO.COM – Perjuangan menempuh pendidikan tinggi selama dua tahun di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengantarkan Julio Ignatius Luntungan, aktivis lingkungan asal Minahasa Utara (Minut), meraih gelar Magister Ilmu Lingkungan dengan predikat cumlaude. Momen kelulusannya terasa istimewa karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, pada 28 Oktober 2026.

Julio menjadi salah satu wisudawan dalam prosesi Wisuda Program Pascasarjana UGM yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, di Grha Sabha Pramana (GSP). Pada periode wisuda tersebut, UGM melepas sebanyak 2.524 wisudawan. Di tengah kebahagiaan para lulusan dan keluarga yang hadir, keberhasilan Julio turut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan masyarakat asalnya di Minahasa Utara.
Pemuda yang dikenal aktif, ramah, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan ini menyelesaikan pendidikan S2 di Sekolah Pascasarjana UGM dalam waktu dua tahun. Ketertarikannya terhadap isu lingkungan menjadi alasan utama mendalami bidang tersebut, khususnya konsentrasi Geo Informasi untuk Manajemen Bencana dan Perencanaan Spasial.

“Saya bersyukur pada Tuhan akhirnya bisa menyelesaikan studi dengan waktu tepat dan bersyukur pula dengan capaian predikat Cumlaude. Capaian ini akan saya dedikasikan untuk masyarakat dan negeri ini,” ujar Julio, yang mengikuti prosesi wisuda dengan didampingi kedua orang tuanya, Stans Meivine Antou dan G. Herry Luntungan, serta adiknya, Elisabeth F. Luntungan.
Selain pencapaian akademik, penampilan Julio dalam prosesi pelepasan di Sekolah Pascasarjana UGM juga menarik perhatian sejumlah undangan. Ia memilih mengenakan pakaian adat Minahasa berwarna hitam dengan bordiran emas. Pilihan tersebut menjadi wujud kebanggaannya terhadap identitas dan budaya daerah asal, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Minahasa di lingkungan akademik.
Penampilan Julio mendapat apresiasi dari rekan-rekan seangkatannya. “Keren banget mas Julio pake baju adat Minahasa. ini bukti Mas Julio cinta tanah Minahasa Utara,” ujar Akbar bersama teman-teman lainnya. Bagi Julio, keberhasilan meraih gelar magister bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi bekal untuk mengabdikan ilmu dan kepeduliannya bagi masyarakat, terutama dalam bidang lingkungan.(VIC)

