Sitaro, TERASMANADO.COM – Memasuki hari keempat pascabencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), upaya penanganan darurat masih terus dilakukan secara intensif.
Adapun fokus utama penanganan meliputi operasi pencarian dan penyelamatan korban, pendataan dampak bencana, serta penyaluran bantuan logistik kepada masyarakat terdampak.
“Berdasarkan laporan perkembangan terbaru pada Kamis (8/1), jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 17 orang. Dari jumlah tersebut, termasuk satu korban anak yang ditemukan pada Rabu (7/1) kemarin,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D.
Menurut Muhari, sebagian korban telah berhasil diidentifikasi, dengan sembilan korban lainnya masih dalam proses pendataan dan identifikasi oleh petugas terkait.
Selain korban meninggal dunia, dilaporkan dua orang warga masih dinyatakan hilang.
“Dan hingga saat ini proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat,” ujarnya.
Sementara dalam aspek pelayanan kesehatan, tercatat sebanyak 12 orang korban dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis, sementara empat orang korban lainnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di Kota Manado guna memperoleh penanganan lanjutan sesuai dengan kondisi medis masing-masing.
Ia menyebutkan, dampak bencana ini juga menyebabkan terjadinya pengungsian warga. Hingga saat ini, sekitar 691 kepala keluarga tercatat terdampak dan berada di lokasi pengungsian. Proses pendataan pengungsi masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh warga terdampak memperoleh bantuan dan layanan dasar yang dibutuhkan.
Selain itu dari sisi kerusakan infrastruktur dan permukiman, data sementara mencatat sebanyak 30 unit rumah hilang, 52 unit rumah mengalami kerusakan berat, 29 unit rumah rusak sedang, dan 89 unit rumah rusak ringan.
“Termasuk tiga unit fasilitas pendidikan turut terdampak, disertai kerusakan pada sejumlah bangunan perkantoran dan infrastruktur umum. Beberapa akses jalan dilaporkan masih terputus dan saat ini dalam proses pendataan lanjutan,” tuturnya.
Muhari menambahkan, jika BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro terus melakukan koordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Utara, instansi terkait, serta pemerintah kecamatan dan kelurahan dalam rangka percepatan penanganan darurat. Bantuan darurat telah disalurkan ke wilayah terdampak untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Dikatakannya, Pemerintah Daerah telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung sejak 5 hingga 18 Januari 2026, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 1 Tahun 2026.
“Adapun penetapan status ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya serta dukungan lintas sektor sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan,” ucapnya.
Sejalan dengan hal tersebut, ia mengatakan pihak BNPB terus mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diimbau untuk menjauhi wilayah rawan bencana serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi kondisi darurat,” ujarnya.
“Pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapsiagaan personel, sarana dan prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak selama masa penanganan darurat,” ujarnya kembali.(***)



