TERAS, Manado – Anggota DPRD Sulut Ronald Sampel mengatakan dirinya akan mengawal kasus dugaan penyekapan terhadap seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial FK (28) di Tuminting, Manado, yang kini telah dilaporkan di Polresta Manado.
“Kita akan kawal hingga tuntas,” kata Sampel saat diwawancara di Kantor DPRD Sulut, Senin (29/4/2024).
Politisi Partai Demokart itu mengaku kasus ini dikeluhkan langsung orang tua korban kepada dirinya.
“Saya mendapatkan keluhan langsung dari orang tua korban, dan memohon bantuan untuk mengawal proses hukum kasus ini,” ujarnya.
Dikatakannya, kasus ini dari data yang masuk telah dilaporkan ke Polresta Manado serta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3AD) Kota Manado.
“Dengan menerima aspirasi ini, saya sudah melakukan konfirmasi ke P3AD Kota Manado, “ sebut legislator dapil Nusa Utara itu.
“Kami berharap kasusnya segera diusut tuntas, jika dalam penyelidikan nanti ditemukan unsur pidana tentunya harus diproses hukum,” harapnya.
Sampel mengakui dari aspirasi yang diterima, kasus dugaan kekerasan yang dialami korban pernah dialami korban dua tahun lalu.
“Ini kasus diduga sudah keduakalinya terjadi harus diusut tuntas, jika terbukti bersalah harus dihukum,” papar Sampel.
Diketahui, berita dugaan penyekapan yang terjadi di Kelurahan Tuminting, Senin (21/04/2024), sempat menghebokan warga.
Kasus ini bermula dari seorang IRT menghubungi call center 112 diduga setelah disekap dalam gudang oleh suami sendiri.
Dikutip dari Swarakawanua.com, korban penyekapan FK menuturkan, sejak awal menikah dirinya mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) secara psikis namun juga pernah mengalami kekerasan secara fisik.
“Sejak akhir 2021 saya dilarang untuk berinteraksi dengan khalayak umum, bahkan untuk bertemu keluarga seringkali tidak diizinkan suami,” ujar FK, Rabu (24/4/2024).
Dikatakannya, pada tahun 2022 sempat melarikan diri dari rumah suami namun karena alasan anak yang tidak bisa berpisah dirinya kembali bersama suami untuk memulai kehidupan rumah tangga yang lebih baik.
Namun kenyataannya tidak sesuai ekspetasi karena ternyata dirinya mengalami KDRT secara psikis lebih parah lagi.
“Jika suami dan mertua pergi bekerja, saya dan anak saya di kunci dalam rumah dan tidak bisa keluar karna kunci rumah dibawa. Bahkan untuk membeli sayur saja harus dilakukan dari balik pagar rumah,” ujarnya.
Sejak kembali ke rumah pada tahun 2022, lanjut FK, dirinya bersama suami lebih sering bertengkar dan setiap hari dirinya diancam bakal dibunuh oleh suami.
“Setiap bertengkar dia selalu mengancam akan membunuh saya bahkan keluarga saya akan disakitinya. Maka saya agak takut untuk melawan karena terus menerus diancam,” tutur FK.
Ditambahkannya, walaupun saat ini telah terlepas dari penyekapan di rumah suami, dirinya mengaku masih akan berjuang untuk mendapatkan hak asuh penuh terhadap anak perempuannya.
“Ketika polisi datang untuk menyelamatkan saya senin lalu, anak perempuan saya tidak diizinkan ikut bersama saya oleh suami. Karena takut akan mencederai anak saya maka saya mengalah anak tidak ikut bersamaku namun saya telah menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan semua permasalahan ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Kuasa Hukum FK, Edwinson Everlius Gampu, SH mengatakan, pihaknya telah melaporkan tindak pidana KDRT terhadap kliennya di Polresta Manado.
“Laporan telah kami ajukan ke pihak kepolisian dan akan terus kami kawal hingga kasus ini tuntas,” ujar Ever sapaan akrabnya.
Selain laporan ke kepolisian, pihaknya juga telah melakukan pendampingan untuk FK melakukan konsultasi di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Manado untuk mendapatkan keadilan bagi FK dan anak perempuannya.
“Semua yang terbaik akan kami upayakan sehingga korban KDRT akan mendapatkan keadilan dan pelaku dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku,” tandasnya. (ivo)